10 Jun 2011

Makna Hijab

Di tengah-tengah suntuknya KP hari kelima, tiba-tiba saya kembali memikirkan mengenai hijab yang sekitar 3 hari lalu sempat terlintas di otak. Sebenarnya pemikiran ini muncul karena mirisnya saya dengan kondisi umat Islam masa kini (terutama kaum Hawa) yang salah kaprah memaknai hijab.

Mungkin sering kita lihat di mall, jalan, pasar, atau tempat lain, banyak wanita yang sudah memakai kerudung namun aurat mereka masih terbuka. Contoh paling gampangnya ya jilbab gaul, jilbab yang menutupi rambut namun sisanya diiket di leher. Apa itu tandanya aurat mereka sudah tertutup??

Allah swt berfirman :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An Nuur: 31)

Allah menganalogikan aurat wanita dengan perhiasan, perhiasan disini maknanya adalah bahwa ia harus dijaga dengan baik-baik dan tidak sembarang orang bisa melihat perhiasan tersebut. Dan dalam ayat di atas jelas bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh, kecuali yang biasa tampak, yaitu wajah dan kedua telapak tangan.

Dalam ayat di atas Allah juga memerintahkan para wanita untuk menutupkan kain kerudung ke dada mereka. Ini membantah konsep jilbab gaul yang selama ini beredar. Mereka bahkan membuka apa yang Allah perintahkan untuk menutupnya!

Terakhir pesan saya, untuk yang sudah berhijab, maknailah hijab dengan lebih dalam, jangan setengah-setengah dan jangan pula berhijab tanpa ilmu (sekedar disuruh atau ikut-ikutan doang). Dan untuk yang belum berhijab, segera perdalam ilmu mengenai hijab, pahami urgensinya, dan tetapkan hati untuk segera berhijab. Gak ada yang tau kan apakah dirinya masih hidup sampai tahun depan atau bahkan sampai selesai membaca postingan blog ini. Betapa malu dan ruginya kita bila niat berhijab tersebut belum terealisasi.

Hanya sebuah pemikiran. Wallahua'lam bisshawab.

Menikmati Macet Bersama Dua Orang Tak Dikenal

Hari ini, setelah pulang "ngantor" saya berencana bertemu teman di Grand Indonesia. Sebenarnya sih sekalian mau mampir nyobain Magnum Cafe, sebelum ditutup akhir Juli nanti. Berangkatlah saya dari GMF jam setengah 4 menuju arah Tol Bandara.

Di jalan tol, gak sengaja saya melihat bus ITB berjalan menuju arah bandara. Saya pikir mau pada kemana ni rombongan anak-anak ITB, tapi ternyata ketika bus tersebut lewat isinya gak ada alias kosong penumpang. Ni iseng banget ya bis ITB jalan-jalan ke bandara. Mungkin mau jalan-jalan iseng kayak saya 2 hari lalu. Hehe.

Di tengah lamunan saya itu, tiba-tiba saya teringat. Ini kan hari Kamis, pasti ada three-in-one dong di Sudirman. Langsung puter otak gimana caranya supaya ke GI dengan selamat tanpa harus nyewa joki, karena sejujurnya saya paling males kalo harus nyewa joki.

Sampai pintu keluar tol, solusi alternatif jalan pun belum saya temukan. Akhirnya saya putuskan untuk nyewa joki ajalah, sekali ini aja gara-gara saya kelupaan. Naiklah dua orang joki, yang satu masih muda umur 20an gitu dan satunya lagi bapak-bapak tanggung sekitar 30 tahunan (tapi mungkin aja umurnya lebih muda daripada mukanya). Tapi sialnya, mereka naik di deretan kursi tengah! Macem supirnya mereka aja saya, sendirian di depan.

Ya sudah, akhirnya saya melanjutkan perjalanan. Kebetulan saya salah keluar tol, jadi kejebak macet cukup lama sebelum berhasil belok di Semanggi. Jadilah saya, beserta dua orang joki sama-sama mengarungi macetnya kota Jakarta, yang penuh sesak dengan mobil yang menyemut dan motor yang sangat lebih menyemut lagi.

Akhirnya sampailah saya di GI, dan mereka pun turun (akhirnya!! *sambil menghela nafas*). Masuk ke GI, dan saya malah salah ambil tempat masuk parkiran. Saya justru ambil tempat parkir yang langsung menuju lantai 7. Mantap lah muter-muter gak karuan sejauh 6 lantai.

Turun dari mobil, saya pun langsung menuju Magnum Cafe yang terletak di West Mall lantai 5 (sementara saya parkir di East Mall lantai 7). Jalan cukup jauh, cari-cari tempatnya, dan akhirnya ketemulah Magnum Cafe, dengan barisan Waiting List yang cukup panjang.

Di sana saya memesan Waffle de Aristocrat, perpaduan es krim Magnum, waffle, dan pisang bakar. Rasanya mantap!! Meskipun harganya cukup mahal sih, 35ribu rupiah. Tapi worthed lah setidaknya.

Magnum terbesar yang pernah saya lihat

Kursi berbentuk magnum

Oke, setelah dari sana saya cari-cari buku di Kinokuniya (West Mall). Pikir-pikir panjang mau beli buku (karena harganya mahal), saya pun pergi ke gramedia (East Mall) untuk cari buku serupa dalam versi Indonesia, yah itung-itung supaya harganya lebih murah lah. Dan ternyata di Gramedia hanya ada novel yang sama tapi nomor 10, sedangkan saya belum baca yang nomor 9. Daripada gak kebagian yang nomor 10, saya pun akhirnya membelinya. Dan konsekuensinya adalah, saya harus membeli novel yang nomor 9 (which is, saya harus balik lagi ke West Mall).

Ambil uang di ATM, balik ke West Mall, dan akhirnya resmilah saya membeli buku "The Series of Unfortunate Events : The Carnivorous Carnival", buku nomor 9 seharga 129ribu (mahal banget sih, ya Allah). Dan saya pun harus balik lagi ke East Mall supaya bisa pulang. Perjalanan yang cukup melelahkan, ditambah saya bolak balik dengan masih menggunakan pakaian kantoran. Pulanglah saya menuju ke rumah, sempat mampir dulu sih di 7 Eleven Taman Puring buat beli Slurpee.

Prediksi saya, jam setengah 10 harusnya jalan udah gak macet, orang-orang pulang jam 5 gitu. Dan ternyata, sesampainya saya di arteri Pondok Indah masih macet saudara-saudara. Mantap!

Dan demikianlah, saya kembali menikmati kemacetan, tapi kali ini tanpa dua orang asing di mobil saya.




8 Jun 2011

Hari Ketiga : Sudah Agak Jelas

Macet macet macet, tumben-tumbennya jalan Ciledug macet total. Dan selidik punya selidik ternyata lagi ada pengecoran jalan makanya sampe macet total (ngecor jalan kok siang-siang tho??). Akhirnya setelah stuck dari jam setengah 7 sampai setengah 8 di tempat yang sama, saya memutuskan untuk balik ke rumah dan ganti naik motor.

Dengan penuh perjuangan dan sempet nyasar-nyasar, akhirnya sampailah di GMF jam 9 tepat. Ternyata begitu nyampe unit engineering, cuma ada satu dua orang. Dan saya pun kembali disuruh nunggu sampe jam 12 karena (calon) pembimbingnya lagi rapat. Tapi setidaknya hari ini saya sudah punya ID card pas intern (yang sayangnya gak bisa dijadiin kenang-kenangan karena harus dikembalikan nantinya setelah KP). Sebuah kemajuan.
ID Card ane nih

Ternyata jam 11 tepat, (calon) pembimbingnya datang dan (untungnya) saya langsung dijelaskan mengenai topik yang akan dikerjakan. “Instalasi HF Communications pada Pesawat B737-300” temanya. Intinya sih disuruh bikin perancangan instalasi sistem komunikasi HF di pesawat tuh gimana, juga disuruh desain siskom HF-nya sekalian (masih kayaknya yang ini mah). Kagetnya adalah di akhir masa pengerjaan saya disuruh presentasi. Okelah kalau barangnya jadi, lah kalau nggak gimana??

Dengan semangat baru setelah dapet kejelasan topik, saya mulai cari-cari literatur tentang sistem komunikasi HF di tempat yang disebut hutan oleh Pak Agus, pembimbing saya. Hutan itu sebenarnya adalah tumpukan map, folder, kertas, dan buku-buku di pojokan kantor yang bener-bener berantakan.

Berikut penampakan beberapa literatur mengenai topik proyek KP saya :



Kata pepatah sih sambil menyelam minum air, nah kalau saya sambil menjelajahi hutan folder nemu laporan KP. Wah, lumayan pisan lah ini buat referensi. Akhirnya niat awal yang pengennya ngerjain proyek KP malah berakhir jadi nyicil laporan KP. Hoho. .

Tibalah waktunya pulang, dan dengan riang saya nyupir motor dengan membonceng senior saya di MBWG yang kebetulan lagi magang di sana. 20 menit jalan hujan pun turun dengah indahnya. Giliran gak bawa mobil aja malah ujan. Ckckck.


Setidaknya hari ini udah jelas kerjaannya, meskipun bingung mau diapain proyeknya.



Hari Kedua Ketidakjelasan

Judul besar hari kedua tetap sama, yaitu menunggu. Istimewanya kali ini menunggunya lebih parah. Mungkin kalau teman saya bilang dari sekian jatah umur hidup manusia dipakai 5 tahun untuk menunggu, maka saya mungkin 7 tahun. Saya mulai menunggu dari jam setengah 9 untuk diberi kejelasan akan ditempatkan dimana. Dan tak disangka-sangka, nunggunya sampai jam 10.45, luar biasa. Dan setelah lama menunggu di HRD, akhirnya saya dialihkan ke bagian TER yang bertempat di hangar 3.

Disana saya disuruh menunggu lagi, yah kira-kira 15 menitan lah. Tapi kali ini sambil menunggu, saya diberi penjelasan mengenai Flight Data Recorder (atau lebih dikenal dengan nama Black Box), saya baru tahu bahwa black box utama pesawat merekam data selama 24 jam dan lebih dari itu data yang lama akan ditimpa oleh data yang baru, sedangkan black box di bagian kokpit pilot hanya merekam selama 30 menit.

6 Jun 2011

KP : Sebuah Bagian dari Jatah 5 Tahun Menunggu


Sedikit ingin berbagi nih tentang pengalaman hari pertama saya menjalani Kerja Praktek (KP) di PT GMF AeroAsia, Cengkareng.

Lokasi PT GMF AeroAsia, persis di sebelah Terminal 1


Kawasan GMF. Tanda panah adalah hangar tempat saya KP

Kronologis bagaimana saya bisa diterima KP di sana sebenarnya cukup panjang, singkat cerita bermula dari keinginan untuk KP di deket rumah, saya pun mencoba apply KP ke Ericsson (yang letaknya kira-kira cuma 20 menit dari rumah). Ngajuin KP bulan Maret, tapi sampai pertengahan Mei pun belum ada konfirmasinya.

Di tengah ketidakjelasan tersebut akhirnya saya coba apply ke GMF lewat link teman saya. 20 Mei saya apply, terus-terusan follow up tiap hari, akhirnya 27 Mei dapet konfirmasi penerimaan di GMF. Tinggal satu masalah besar yang mengganjal, surat pengantar KP dari program studi. Karena saya sudah diterima KP di Telkom Bandung, saya diwajibkan untuk membatalkan KP di telkom tersebut sebelum meminta surat pengantar baru. Akhirnya pada tanggal 27 itu juga (hari Jumat) saya langsung ngajuin surat pembatalan KP Telkom dan hari Selasa alhamdulillahnya surat udah beres. Jadilah saya resmi KP di GMF.