28 Oct 2010

Fitness

Mulai membiasakan rutin nulis blog ni, mudah-mudahan bisa bertahan lama "One day one post"nya.hehe..

Hari ini mungkin cerita tentang fitness. Ya, saya yang kurus tak berisi ini mencoba ikut fitness di saraga hari ini setelah praktikum jartel. Bersama Sandy Akbar dan Baroto, sang instruktur, saya training selama sekitar satu jam. Harga masuknya cukup terjangkau, hanya 7500 rupiah bisa fitness till drop.

Mulai dari angkat dumbell, barbel, sit up, dsb saya jalani. Berat juga euy ternyata, terutama buat saya yang gak terbiasa olahraga rutin ini. Tapi lumayanlah, badan jadi seger setelahnya. Mudah-mudahan juga bisa rutin ni fitnessnya, biat badan cepet berotot. Haha.

Satu yang menarik adalah susu yang dibeli Baroto. Susu suplemen nutrisi yang imporan Amerika dan memiliki massa 5 kg ini harganya mahal bukan main. 850 ribu rupiah satunya. Bener-bener lah sang instruktur niat pisan ngegedein otot. Mantap!
Dan lumayan tadi sempet nyoba susu 850ribu itu, walaupun rasanya gak terlalu enak (namanya juga susu nutrisi).

Target minggu ini : Beli susu L-Men biar otot cepet berisi.





27 Oct 2010

Penghitungan Suara ca-Fomatur MBWG

Hmm, hari ini bisa dibilang hari yang cukup bersejarah buat saya. Mengapa? Karena di hari ini hasil pemilu caketum MBWG dihitung. Tapi tidak hanya itu saja, ada cerita menarik di balik penghitungan suara hari ini. Saya mulai saja kisah hari ini..

Pukul 6 sore tepat saya sampai di ruang alat, setelah berdiam diri di HME cukup lama untuk membicarakan pemilu raya dengan teman-teman saya. Bingung mau ngapain, saya pun baca-baca slide kuliah probstat sambil makan keripik pisang khas Lampung. Dan ketika pukul 18.30 lewat beberapa menit, saya dan semua anggota MBWG yang ada di ruang alat dihimbau untuk segera berpindah ke ruang 26 CC barat dalam rangka LPJ MBWG dan penghitungan hasil pemilu.

LPJ pun dibacakan, tidak lama karena hanya LPJ sekretaris umum saja. Event setelahnya lah yang langsung membuat jantung saya berdebar kencang. Saya mulai deg-degan dengan penghitungan suara yang sebentar lagi akan dimulai. Kotak suara pun dibuka dan satu persatu surat suara mulai dihitung.

Surat suara pertama, kedua, dan ketiga menghasilkan suara berturut-turut Julius, Roland, dan Tito. Saya yang berharap nama saya di sebut di surat suara ke empat ternyata belum disebut juga. Dan akhirnya pada surat suara yang ke lima nama saya pun disebut. Surat suara demi surat suara dibuka, dibacakan hasilnya, dan dicek keabsahannya. Suara masing-masing dari kami - para calon formatur - susul menyusul dengan selisih yang sangat tipis. Namun di antara surat suara yang sah tersebut, ada dua surat suara yang abstain dan satu suara memilih saya yang tidak sah. Dan akhirnya sampailah di akhir-akhir penghitungan suara.

Dari hasil sementara, saya dan roland memiliki jumlah suara yang berbeda hanya satu suara. Roland 20 dan saya 19. Di saat itu saya yang mengira bahwa penghitungan suara sudah selesai langsung menyalami Roland untuk memberi selamat. Namun ternyata setelah panitia mengecek ulang kotak suara, terdapat 4 surat suara yang belum terhitung. Debaran jantung saya yang sempat mereda pun kembali kencang.

Surat suara pertama dibuka, hasilnya adalah saya. Suara imbang 20-20. Surat suara kedua dibuka, hasilnya Julius. Suara kami masih imbang. Surat suara ketiga dibuka, hasilnya adalah saya. Jantung makin kencang berdetak, suara 21-20. Dan ketika surat suara terakhir dibuka, hasilnya adalah....Roland. Suara pun kembali imbang 21-21.

Saya benar-benar tidak menyangka kalau pemilu dengan 4 calon formatur dan pemilih sebanyak 73 orang ini bisa seketat ini, bahkan sampai menghasilkan suara yang imbang untuk saya dan Roland. Kalau bisa saya sebut ini drama, maka ini merupakan sebuah drama bergenre thriller yang sangat dramatis dan epik. Sungguh suatu persaingan yang sangat sengit.

Itulah sebabnya saya bisa katakan bahwa hari ini adalah hari yang patut dikenang seumur hidup. Sebuah drama yang takkan terlupakan, bahwa saya pernah menjadi bagian dari kejadian langka dalam sejarah pemilu MBWG.






Arak-arakan Wisuda!!

Wah, lama juga ternyata gak ngupdate blog. Gara-gara UTS, wisudaan, dan praktikum, blog pun jadi terbengkalai. Mungkin yang sedikit ingin saya ceritakan kali ini adalah wisudaan.

Pada wisudaan kali ini saya mendapat amanah menjadi koordinator lapangan utama. Mulai dari menyusun konsep arak-arakan, rakor tim korlap, forsil wisudaan dengan satgas KM ITB, sampai simulasi pasukan bendera saya siapkan dan jalani. Sampai akhirnya tibalah hari H wisudaan tanggal 23 Oktober 2010.

Saya mulai standby di HME mulai dari jam setengah 8, menunggu massa datang sampai jam setengah 9, dan akhirnya menunggu wisudawan keluar dari sabuga pada jam 12 siang. Dan mulai jam 1 lah, tugas saya yang sesungguhnya dimulai.

Arak-arakan dibuka dengan keluarnya KMSR dari sabuga, namun mereka tidak melewati saraga dan tunnel karena mereka langsung menuju plawid dengan melewati kanopi. Dan terus berlanjut dengan himpunan-himpunan lain. Yang tidak saya sangka, wisudawan himpunan lain keluar lebih cepat daripada biasanya. Sebab LFM membuka 3 studio foto di dalam sabuga, sehingga turut mempercepat keluaranya wisudawan tersebut.

Saya mulai bertanya-tanya apakah wisudawan HME sudah siap keluar atau belum. Saya telepon lah kadiv LO, Zagi, untuk menanyakan hal tersebut. Dan ternyata wisudawan belum terkumpul! Saya telepon lagi dia untuk kedua kalinya, dan masih belum terkumpul juga.

Akhirnya dari satgas ada tawaran agar waktu keluar wisudawan HME dari sabuga diundur, karena wisudawan HIMATEK dan HMFT telah terkumpul dan siap untuk keluar. Saya yang takut hal itu bisa mengakibatkan HME kesorean arak-arakannya akhirnya berinisiatif untuk masuk ke sabuga. Di dalam saya langsung menemui wisudawan dan menyuruh mereka untuk segera moving ke backstage.

Saat saya di dalam sabuga, ternyata hujan turun dengan derasnya di luar sana. Saya pun menanyakan kepada wisudawan apakah masih mau lanjut atau tidak. Wisudawan sih setuju-setuju saja, tapi dari wisudawati meminta agar mereka bisa dipayungi karena hujan yang turun sangat deras. Saya turuti permintaan mereka dengan mengordinasikan askorlap untuk menudungi wisudawati dengan baligo saat mereka keluar sabuga.

Tepat saat wisudawan HME terakhir datang, HME disuruh untuk segera keluar arak-arakan oleh satgas KM. Dan dimulailah arak-arakan tersebut.

Saya yang sempat sibuk merapikan barisan lupa bahwa rombongan arak-arakan harus berbelok, akhirnya sempat terjadi ke-hectic-an karena rombongan harus berbalik. Wisudawan yang tadinya sudah terbarikade, banyak yang kabur-kaburan untuk bermain lumpur di lapangan saraga. Dan setelah beberapa menit, keadaan pun lancar kembali.

Wisuda kali ini turut disemarakkan dengan kehadiran pasukan bendera sebanyak 10 orang. Hal itu ternyata juga menambah kegagahan HME saat arak-arakan bergerak. Semua berjalan lancar sampai kami tiba di BSC A.

Kebetulan di HMS sedang ada acara wisudawan sipil, dan banyak satpam yang berkeliaran di sana. Satpam yang melihat kami membawa bambu, meminta kami menyerahkan bambu tersebut. Padahal bambu tersebut hanya akan dipakai untuk performance. Saya pun melobi satpam dan dia mengarahkan untuk langsung bebicara dengan ketua K3L, Pak Harman. Beliau pun tidak mengizinkan. Namun setelah kami hampir sampai di tempat performance, saya mendapat kabar dari Danpas bendera, Gharda, bahwa bambu bisa dipakai asal ada jaminan dari HME. Dan waktu itu jaminannya adalah KTM saya, tergadai lah KTM saya selama 15 menit demi bambu performance.

Setelah performance, rombongan bergerak lagi ke arah tugu Soekarno, dan di sana kami melakukan ritual setrum-setruman. Saya yang melihat kerumunan massa dari depan tugu Soekarno, sangat terpana dengan jumlah massa yang ada. Sungguh jumlah massa yang banyak sekali, bahkan bila dipakai untuk menutup jalan CC pun bisa.

Setelah setrum-setruman selesai, kami bergerak lagi ke 9012 untuk melakukan ritual yang sesungguhnya, sebuah pembantaian bernama "Perang Air". Seperti biasa perang air selalu rusuh dengan wisudawan yang saling "mengerjai" wisudawan yang lain. Namun perang air kali ini sedikit berbeda dengan kehadiran spons sebagai pengganti plastik air. Dan bisa saya katakan bahwa spons itu solusi yang tepat untuk mengganti plastik air dalam perang air, asal ada sumber air untuk spons.

Yah demikian sedikit pengalaman saya sebagai korlap wisudaan HME kali ini. Setelah menjadi LO pada wisuda Oktober 2009, tim korlap wisuda April 2010, dan kini berakhir sudah tugas saya sebagai korlap wisudaan Oktober 2010. Kebetulan wisuda kali ini merupakan wisuda terakhir yang dipegang angkatan 2008, dan alhamdulillah acara malam dan acara siang yang terakhir ini bisa berjalan dengan sangat baik dan memuaskan wisudawan.

Harapan saya, semoga wisudaan berikutnya yang mulai dipegang oleh angkatan 2009 bisa lebih baik dan lebih mengesankan dibanding wisuda Oktober kali ini. Semoga.





17 Oct 2010

Sampai Kapan??

Hari ini adalah hari dimana BP MBWG 2009/2010 di bawah kepemimpinan Radit akan menyampaikan laporan pertanggungjawabannya. LPJ dijadwalkan dimulai pada pukul 9.00, tapi sampai jam 9.05 kuorum belum terpenuhi. Akhirnya acara dipending dan dimulai kembali pukul 10.

Pukul 10, ternyata anggota yang datang belum sampai kuorum 48 orang, baru sekitar sepertiga jumlah anggota biasa yang hadir. Atas alasan pembelajaran, LPJ ditunda sampai jam 1. Oke, saya yang sudah datang tepat waktu jam 9, merasa kecewa dengan keputusan tersebut. Untuk apa saya susah payah datang pagi dan meninggalkan kuliah serta agenda lainnya untuk sebuah acara yang ternyata baru dimulai jam 1. Dan saya rasa tidak hanya saya yang merasa demikian, anggota yang lain tentunya merasakan kekecewaan yang sama.

Tepat pukul 1, LPJ dimulai. Kali ini dengan jumlah anggota yang lebih banyak. Divisi demi divisi membacakan pertanggungjawabannya, dan anggota angkatan atas (terutama BP lama) banyak yang bertanya. Ketika sampai pada LPJ sekretaris, ternyata sekretaris umumnya belum datang karena ada penampilan di balai kota. Akhirnya LPJ sekretaris pun di-skip.

Sampai pada pukul 5, ketika semua LPJ termasuk LPJ ketum telah dibacakan, sang sekretaris pun belum datang juga, dengan alasan yang kami semua, para anggota, tidak ketahui. Akhirnya Dhira pun menyarankan agar LPJ dan penghitungan suara ditunda, namun Radit menginginkan agar penghitungan suara tetap dilakukan. Sebagian besar anggota akhirnya menuntut agar penghitungan suara diundur. Radit pun masih keukeuh dengan keputusannya dan akhirnya Dhira pun walk out dari forum karena kecewa dengan keputusan yang tidak sesuai dengan mayoritas pendapat anggota tersebut.

Setelah situasi yang panas dan debat sana sini, akhirnya Radit mengambil keputusan untuk mengundur penghitungan suara. Di titik ini saya benar-benar kecewa. Pertama, karena keputusan Radit cenderung plin plan, sehingga anggota pun bingung apakah sidang jadi dilanjutkan atau tidak. Kedua, karena ketidakhadiran satu orang sekretaris saja akhirnya LPJ harus diundur. Saya tidak mempermasalahkan LPJnya diundur, karena bisa saja LPJ diundur karena ditolak oleh anggota. Tapi dalam kasus ini, bahkan LPJ pun belum diketahui ditolak atau diterimanya, hanya karena satu orang yang seharusnya (walaupun dengan memaksakan diri) bisa hadir dalam sidang anggota. Ketiga, karena penghitungan suara yang menurut timeline pemilu seharusnya telah dilakukan pada 12 Oktober lalu diundur menjadi tanggal 16 (bertepatan dengan LPJ), dan sekarang malah diundur lagi sampai entah kapan.

Saya melihat semua anggota kecewa dengan diundurnya penerimaan LPJ tersebut, hanya karena masalah remeh yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kekecewaan lebih mendalam saya lihat pada ketiga calon ketua umum lainnya, dimana kita yang seharusnya sudah mengetahui kepastian menang atau kalahnya jadi semakin digantung oleh ketidakpastian.


Kini pertanyaan saya, sampai kapan saya terus menerus berada dalam ketidakpastian seperti ini?? Sampai kapan??





14 Oct 2010

Tanggung jawab

Perkataan imam Hasan Al-Banna semakin saya rasakan benarnya.

"Kewajiban yang ada lebih banyak daripada waktu yang tersedia"

4 Oct 2010

Perjalanan Caketum MBWG

Awal September 2010, saat-saat dimana saya memulai perjalanan yang bisa saya bilang panjang, melelahkan, dan menguras otak ini. Saat-saat dimana saya dengan penuh kesadaran diri mencalonkan diri sebagai calon formatur MBWG 2010/2011. Saat-saat dimana saya berusaha membagi visi dan impian yang saya miliki untuk MBWG dengan orang-orang lain di sekitar saya.

Liburan lebaran yang seharusnya saya habiskan dengan tenang bersama keluarga, justru menjadi liburan yang penuh pikiran untuk saya. Mulai dari menyiapkan konsep visi misi, wawancara sana sini dengan anggota MBWG, sampai menyiapkan media apa saja yang bakal dipakai untuk kampanye.

Tanpa bermaksud membesar-besarkan, tiap malam saat saya kesulitan tidur pasti ujung-ujungnya saya kepikiran soal pemilu. Bahkan di mimpi pun yang saya mimpikan adalah saat-saat hearing hearing berlangsung, padahal hearing masih jauh waktu itu.

Sekembalinya saya ke Bandung setelah liburan, tidak serta merta pikiran itu hilang. Justru semakin kuat, akibat dekatnya timeline kampanye yang akan segera berlangsung. Pikiran semakin bertambah sebab saya bahkan belum pernah kumpul tim sukses sekalipun.

Dan akhirnya masa-masa kampanye pun dimulai pada 23 September. Materi yang dirilis hanyalah video (versi sampah) yang ternyata mendapat respons luar biasa positif baik dari anak-anak MBWG, STEI, himpunan lain, bahkan teman-teman SMP dan SMA saya. Kebanyakan dari mereka mendukung dengan memberikan semangat dan kesetujuan dengan langkah saya mencalonkan diri menjadi ketua.

Hari-hari pun berlalu, namun materi kampanye yang lain seperti paper craft besar dan kecil, dan video versi serius belum beres. Karena kebanyakan dari tim saya masih menjalankan osjur dan sibuk mengurus acara lain, media-media tersebut baru dirilis pada akhir-akhir kampanye. Bahkan paper craft yang besar pun tidak pernah terpasang kepalanya (yang rencananya berisi visi dan misi saya).

Dan akhirnya hari hearing pun tiba. 3 Oktober 2010.

Alhamdulillah, hearing yang berjalan selama kurang lebih 5 jam tersebut berjalan dengan lancar. Mulai dari presentasi visi, misi, serta program kerja, menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari anggota, serta performance kampanye. akhir yang super mendadak dan super sampah, semua akhirnya terlalui dengan lancar.

Dan hari ini dimulailah masa-masa pemungutan suara, dengan pengumuman ketua umum baru terpilih pada tanggal 12 Oktober. Saya pun dapat sedikit bernafas lega (untuk sementara), sebab bila saya terpilih nantinya pekerjaan pasti akan lebih panjang dan melelahkan.

Kita tunggu saja, siapakah ketua umum MBWG berikutnya, yang mampu membawa MBWG menuju perubahan yang lebih baik. Sebab, tahun 2011 merupakan momentum kemajuan MBWG, tentu bila sang ketua baru dapat memanfaatkan momentum tersebut.