23 Apr 2013

South Sulawesi Trip #2

18 April
Pagi dibuka dengan ajakan mendaki bukit yang tidak jauh dari rumah. Ternyata bukit tersebut bernama puncak Pua Janggo (Pua= nenek, Janggo=jenggot. Jadi kira-kira artinya nenek/orangtua yang berjenggot). Setelah sekitar 1 kilometer mendaki kami disuguhi pemandangan luar biasa, matahari terbit di atas bumi Sulawesi Selatan. Dan setelah itu kami pun turun dan kembali ke rumah untuk menikmati pisang bakar dan kopi panas.
Bira's Sunrise


Selesai mengisi perut kami pergi ke suatu tempat bernama Bara. Setelah 10 menit naik mobil dan melewati deretan diskotek-diskotek pinggir pantai, kami pun sampai. Dan ternyata tempat itu adalah tanah pribadi milik Pak Haji Tajir (kami memanggilnya demikian) yang di belakangnya ada pantai pribadinya. Karena pantai pribadi maka air laut dan pemandangannya pun lebih eksotis daripada pemandangan biasa. Kami yang tidak membawa perlengkapan renang sama sekali pun langsung menceburkan diri ke laut, tanpa pikir dua kali. Kejernihan air, sepinya pantai, dan indahnya pemandangan membuat kami serasa di surga, dan tanpa hentinya kami meneriakkan "INI LIBURAN PALING KONGKRIT!!".

Selesai renang dan foto-foto kami pergi ke pembuatan kapal Pinisi, tidak jauh dari penginapan kami. Ternyata ada 2 kapal Pinisi yang sedang dibuat. Dan seketika kebanggaan itu muncul saat melihat kapal kayu besar itu. Inilah satu-satunya kapal kayu besar yang masih diproduksi di dunia. Bahkan pembelinya pun kebanyakan berasal dari Eropa, dengan harga sekitar 4 milyar per kapalnya. Satu kapal bisa mencapai berat 1500 ton, luar biasa.

Selesai dari sana kami pun pulang dan sarapan. Dan setelah selesai mandi dan packing kami pun pamit dengan Pak Haji Tajir sang pemilik rumah. Sungguh kesempatan luar biasa bisa jalan-jalan ke pantai yang indahnya bukan main, sekaligus menginap di penduduk sekitar yang ramah dan baiknya banget-bangetan.

Saat kembali ke Makassar kami memutuskan untuk lewat rute lain, yaitu melewati daerah Galesong. Kami melewati sungai yang sangat lebar dan sekilas tampak seperti sungai Amazon, dengan pepohonan di rawa-rawanya. Di sana kami sempat mampir ke rumah saudara jauh Haji Supu di daerah bernama Soreang (jauh-jauh ke Sul-Sel ketemunya Soreang Soreang juga). Dan yang gak diduga, kami pun dijamu lagi dengan makanan berat dan ikan laut. Bahkan pemilik rumahnya sampai memasukkan nasi dan ikan ke piring kami supaya kami mau tambah makan. Sepertinya memang adat di sini untuk menjamu tamu dengan makanan berat.

Sungai Galesong

Di tengah perjalanan Pak Supu sempat bercerita tentang Kerajaan di Makassar dulu. Orang Bugis (suku di Sul-Sel) yang terkenal sebagai suku penjelajah mengarungi samudera dengan kapal Pinisi untuk menemukan tempat-tempat baru. Jika mereka sampai di tempat baru mereka akan menanam pohon lontar sebagai tanda daerah tersebut adalah kekuasaan mereka. Mereka juga sempat berlayar sampai ke Singapura yang dibuktikan dengan adanya daerah bernama Bugis di sana (ada juga mall yang bernama Bugis Junction dengan logo kapal Pinisi di Singapura).

Setelah mengantar pak Supu pulang, kami makan malam di Konro Karebosi. Meskipun harganya mahal (39 ribu satu porsi), tapi kami puas dengan hidangan yang disajikan. Iga sapi utuh dengan daging yang tebal. Maknyus!


19 April
Hari ini bisa dibilang hari kuliner, karena sepanjang hari kerjaan kami adalah keliling-keliling tempat makan di Makassar. Pagi dimulai lagi dengan mandi dengan air licin di masjid. Setelah mengisi air di ember untuk dibawa pulang ke rumah, kami berangkat untuk jumatan di Masjid Raya Makasar. Sebelum jumatan kami menyempatkan diri untuk menikmati Coto Paraikatte di jalan AP Pettarani. Rasanya mantap! Harganya pun terjangkau, hanya 15 ribu untuk coto dan 3 buah ketupat.

Setelah jumatan kami melanjutkan perjalanan untuk belanja oleh-oleh di jalan Somba Opu, dekat Pantai Losari. Barang yang dijual antara lain gantungan kunci, kaos-kaos, minyak tawon, kacang disco, kue-kue kering khas Makassar, kerajinan tangan, dan kopi Toraja yang katanya termasuk kopi ter-enak di dunia. Sekitar 45 menit kami berbelanja dan setelah itu kami makan sore di Palu Bassa Jalan Serigala.

Menurut saya Palu Bassa inilah makanan paling enak yang saya makan selama di Sulawesi. Campuran daging kerbau yang empuk dengan telor mentah membuat saya menambah porsi makan. Gak terucap dengan kata-kata deh pokoknya, harus dicoba sendiri.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke otak-otak Ibu Elly di Jalan Kijang, tidak jauh dari Jalan Serigala. Otak-otak ini juga termasuk salah satu oleh-oleh yang wajib dibawa dari Makassar. Ikan tenggiri yang mantap, bikin minta lagi dan lagi.

Hari kuliner ini pun berlanjut ke Mie Titi di daerah Panakkukang. Menurut saya mienya biasa saja, hanya campuran daging dengan mie kering yang lurus-lurus. Dan setelah itu kami pun pulang.

20 April
Hari terakhir kami di Makassar. Setelah mandi licin untuk terakhir kalinya kami pun berangkat ke Bantimurung. Di sana ada Taman Nasional Bantimurung Bulusaurung yang merupakan daerah penangkaran kupu-kupu spesies Sulawesi. Dengan tiket masuk 15 ribu rupiah, pengunjung bisa menikmati museum dan penangkaran kupu-kupu serta mandi di air terjun. Saya pun sempat melihat telur kupu-kupu, ulat yang lain dari biasanya, dan kupu-kupu yang beterbangan bebas di sekitar.
Karena kemarin hujan deras, air terjun yang biasanya tampak tenang di sana menjadi sangat deras. Kami pun hanya sekedar melihat-lihat, tidak sampai berenang lagi di air terjun.

Salah satu kepompong di penangkaran

Setelah melihat souvenir kupu-kupu yang banyak dijual di luar kami pun melanjutkan perjalanan ke taman prasejarah Leang-Leang. Ternyata di sana ada goa yang berisi lukisan babi dan cap tangan yang dibuat oleh nenek moyang kita. Ada juga kerang-kerang yang terletak di dalam goa, dan ternyata daerah gunung itu dulunya adalah dasar laut sampai akhirnya air laut surut dan daerah itu menjadi goa yang dihuni oleh orang purba. Di sana juga tampak batuan-batuan besar yang menghiasi sawah dan taman.

Bebatuan di Leang-Leang


Lukisan babi hutan (berwarna merah) oleh manusia prasejarah


Kerang laut di dalam goa. How come?

Setelah itu kami beranjak ke kota untuk menemui teman saya Tania yang kuliah di Universitas Hasanuddin. Kami makan siang di Coto Paraikatte dan dilanjutkan dengan menikmati pencuci mulut es Pisang Ijo di pinggir Pantai Losari. Momen yang lengkap untuk menutup perjalanan tak terlupakan ini.

Pukul 17.00 kami berangkat ke bandara dengan diantar pak Supu. Meskipun baru sehari kenal, rasanya kami sudah dekat seperti orangtua dan anak dengan pak Supu. Saat perpisahan pun sempat terbersit, kapan bisa bertemu lagi dengan beliau dan Makassar lagi.

Pukul 19.45 WITA pesawat berangkat dan kami pun sampai di Jakarta pukul 21.05 WIB. Rendy berpisah di bandara, sementara saya dan Sandy kembali ke Bandung dengan travel. Sungguh 5 hari yang mengesankan dan tak terlupakan di Sulawesi Selatan.

nb : Album foto perjalanan Sulawesi Selatan bisa dilihat di sini.




No comments:

Post a Comment