12 Jun 2010

Media Distraction

Hari ini saya terbangun untuk shalat subuh jam setengah 6. Hal yang pertama saya lihat di himpunan adalah TV yang menyala semalaman padahal tidak ada yang menonton. Yah sangat disayangkan sih, himpunan yang gencar-gencarnya mengampanyekan hemat listrik justru membuang-membuang listrik secara percuma. Bahkan kabarnya, pemakaian listrik di HME merupakan yang terbesar di ITB. Miris.

Yang membuat saya bertambah miris tadi pagi adalah berita di TV. Saya pikir topik utama yang diangkat pasti tentang pembukaan piala dunia dan pertandingan perdana semalam. Namun ternyata yang saya lihat adalah berita mengenai Ariel yang merusak kamera wartawan.

Ternyata Ariel benar-benar telah berhasil menjadi pengalih perhatian bangsa kita saat ini. Berita mengenai skandal video pornonya berhasil mengalihkan perhatian kita dari isu serangan Israel terhadap kapal bantuan untuk Palestina, lalu dana aspirasi sebesar 15 miliar yang ngotot diperjuangkan oleh anggota dewan dari partai Golkar, dan terakhir adalah gaung piala dunia.

Menurut pengamatan saya, semua berita dan isu tadi meredup gaungnya. Mungkin saja ini diakibatkan tayangan infotainment - yang notabene paling sering ditayangkan di televisi - terus menerus menayangkan berita tentang skandal ini. Terlebih lagi sekarang stasiun televisi swasta yang biasanya menayangkan berita-berita yang cukup berkualitas malah mulai membahas skandal ini tak ubahnya infotainment. Lagi-lagi saya miris.

Dan salah satu berita lagi yang membuat saya miris adalah berita bahwa salah satu tayangan bukan empat mata baru-baru ini. Pada salah satu episodenya tukul sempat menghina seorang kakek karena kakek tersebut memiliki pendengaran yang kurang. Kakek renta yang menjadi tamu dalam acara tersebut ditertawakan tanpa rasa berdosanya oleh penonton satu studio. Dan yang lebih parahnya lagi, Pinkan Mambo yang menjadi bintang tamu dengan tidak ada rasa malunya menari yang cukup erotis di depan kakek tua tersebut. Saya semakin berpikir, dimana letak moral tayangan ini?

Hmm, mungkin yang bisa saya lakukan sekarang adalah tidak ikut-ikutan teralihkan oleh skandal tersebut. Masih banyak permasalahan dan urusan yang jauh lebih penting lagi. Dan kesimpulan yang bisa saya ambil, memang ternyata media distraction lebih jahat daripada teroris.



No comments:

Post a Comment